View Full Version: LUMPUR LAPINDO

Bayuzone > KARYA TULISKU > LUMPUR LAPINDO


Title: LUMPUR LAPINDO


BAYU - December 29, 2007 12:15 AM (GMT)
QUOTE



DAMPAK LUMPUR LAPINDO TERHADAP STRUKTUR PEREKONOMIAN DAN PERUBAHAN PERILAKU DI PENGUNGSIAN UTAMA PASAR  BARU PORONG



Disusun Oleh :
Bayu Satriyawan





SMA NEGERI 80 JAKARTA UTARA
Jalan Sunter Karya Selatan V Sunter Agung Telp. 64716130
Jakarta Utara 14350  BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Banjir Lumpur Panas Sidoarjo 2006, merupakan kasus menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak tanggal 29 Mei 2006. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta mempengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.
Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan.Lokasi semburan hanya berjarak 150-500 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas sebagai operator blok Brantas. Oleh karena itu, hingga saat ini, semburan lumpur panas tersebut diduga diakibatkan aktivitas pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas di sumur tersebut. Pihak Lapindo Brantas sendiri punya dua teori soal asal semburan. Pertama, semburan lumpur berhubungan dengan kegiatan pengeboran. Kedua, semburan lumpur “kebetulan” terjadi bersamaan dengan pengeboran akibat sesuatu yang belum diketahui.
Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Dampak tersebut berupa rusaknya infrastruktur, seperti mengenanggi desa dan kecamatan, rusaknya rel dan tergenangnya jalan raya, 600 hektaR lahan terendam, sutet yang tidak berfungsi, dan ditutupnya pabrik-pabrik.
Dampak tersebut membuat berubahnya struktur perekonomian bagi masyarakat yang lahan dan tempat tinggalnya terendam oleh lumpur Lapindo. Mereka pada saat itu hanya menggantungkan hidup dari dana ganti rugi oleh pihak Lapindo. Namun dalam pelaksanaannya masyarakat merasakan bahwa dana yang dialokasikan oleh pihak yang bersangkutan sangat kurang. Keadaan tersebut berdampak pada perubahan perilaku warga Lapindo.
Oleh karena itu, dalam penulisan laporan ilmiah ini penulis memberi judul “Dampak lumpur lapindo terhadap struktur perekonomian dan berubahnya perilaku di pengungsian utama Pasar Baru Porong”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan tersebut, maka didapatkan identifikasi masalah. Identifikasi masalahnya adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana awal mula terjadinya semburan lumpur Lapindo?
2. Mengapa hingga terjadi semburan lumpur Lapindo?
3. Apa dampak dari semburan lumpur Lapindo?
4. Bagaimana keadaan lingkungan di daerah sekitar semburan lumpur Lapindo?
5. Apakah semburan lumpur Lapindo berpengaruh terhadap keadaan perekonomian masyarakat yang terkena semburan tersebut?
6. Bagaimana upaya dari pihak Lapindo dalam menanggulangi keberadaan lumpur Lapindo yang menenggelamkan desa-desa?
7. Apa tindakan masyarakat terhadap kejadian semburan lumpur Lapindo?
8. Apa pengaruh lumpur Lapindo terhadap keadaan psikologis warga yang lahannya tenggelam oleh lumpur?
9. Bagaimana keadaan psikologis warga dengan adanya lumpur Lapindo?
10. Apa yang menyebabkan adanya pengaruh terhadap berubahnya perilaku warga korban lumpur Lapindo?
11. Apa upaya terhadap warga korban lumpur Lapindo agar dampak negatif yang mereka rasakan dapat terminimalisir?
12. Apa saja kerugian yang ditimbulkan akibat semburan lumpur Lapindo?
13. Apa harapan warga korban lumpur Lapindo yang ingin disampaikan?

C. Pembatasan Masalah
  Agar penelitian diharapkan mampu lebih fokus, maka diperlukan pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Warga yang di wawancarai hanya korban lumpur LAPINDO yang menempati di satu pusat penampungan utama di Pasar Baru Porong.
2. Objek penelitian adalah warga Kecamatan Porong, yang mengungsi di sekitar lokasi Pasar Baru Porong.
3. Keadaan psikologis dan perubahan perilaku warga yang terkena dampak akibat berubahnya struktur ekonomi.

D. Rumusan Masalah
Setelah mengidentifikasi masalah dan melakukan pembatasan masalah, maka rumusan masalah yang dapat disampaikan adalah “Bagaimana hubungan peristiwa lumpur lapindo terhadap struktur perekonomian dan perubahan perilaku warga sekitar yang mengungsi di Pasar Baru Porong?”

E.  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian tersebut antara lain sebagai berikut, yaitu:
1. Untuk mengetahui dampak lumpur lapindo terhadap keadaan psikologis warga
2. Untuk mengetahui hubungan keadaan psikologis sebagai akibat berubahnya struktur perekonomian yang telah terjadi akibat tenggelamnya lahan warga.
3. Untuk mengetahui perubahan perilaku akibat tenggelamnya semburan lumpur Lapindo.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan laporan ilmiah berikut antara lain, yaitu:
1. Memberi informasi kepada masyarakat luas mengenai dampak semburan lumpur Lapindo terhadap keadaan psikologis warga.
2. Memberi informasi mengenai hubungan berubahnya struktur perekonomian yang berakibat terhadap keadaan psikologis warga.
3. Memberi gambaran umum mengenai peristiwa semburan lumpur Lapindo dan dampaknya terhadap alam, sosial, dan manusia.






















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi  variabel
Adapun deskripsi variabel yang digunakan dalam penelitian  terbagi dalam tiga variabel. Variabel yang pertama adalah dampak lumpur LAPINDO. Variabel pertama merupakan variabel terbuka, dan variabel kedua yaitu keadaan psikologis warga adalah variabel terikat. Dimana variabel kedua tersebut merupakan inti dari permasalahan. Sementara itu, variabel ketiga adalah berubahnya struktur perekonomian. Variabel tersebut adalah penyebab adanya variabel kedua. Dan struktur perekonomian akan berubah sebagai akibat adanya variabel pertama, yaitu semburan lumpur LAPINDO.

B. Deskripsi Lokasi Wilayah Semburan Lumpur LAPINDO
Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan.
Lokasi semburan hanya berjarak 150-500 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas sebagai operator blok Brantas. Oleh karena itu, hingga saat ini, semburan lumpur panas tersebut diduga diakibatkan aktivitas pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas di sumur tersebut. Pihak Lapindo Brantas sendiri punya dua teori soal asal semburan. Pertama, semburan lumpur berhubungan dengan kegiatan pengeboran. Kedua, semburan lumpur "kebetulan" terjadi bersamaan dengan pengeboran akibat sesuatu yang belum diketahui.
Lokasi tersebut merupakan kawasan pemukiman dan di sekitarnya merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Tak jauh dari lokasi semburan terdapat jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-Pasuruan-Banyuwangi (jalur pantura timur), serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi. (/wiki/Berkas:Lokasi-semburan-lumpur.jpg)

C. Penyebab Terjadinya Peristiwa Lumpur Lapindo
Berdasarkan data-data yang didapatkan perkiraan terjadinya peristiwa semburan lumpur panas Lapindo adalah sebagai berikut.
Saat  kedalaman 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping. Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (bolong-bolong). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik) atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di permukaan.
Akibat dari habisnya lumpur Lapindo, maka lumpur formasi Pucangan berusaha menerobos ke luar (terjadi kick). Mata bor berusaha ditarik tetapi terjepit sehingga dipotong. Sesuai prosedur standard, operasi pemboran dihentikan, perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup & segera dipompakan lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan mematikan kick. Kemungkinan yang terjadi, fluida formasi bertekanan tinggi sudah terlanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di permukaan (surface casing) 13 3/8 inchi. Di kedalaman tersebut, diperkirakan kondisi geologis tanah tidak stabil & kemungkinan banyak terdapat rekahan alami (natural fissures) yang bisa sampai ke permukaan. Karena tidak dapat melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui lubang sumur disebabkan BOP sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi akan berusaha mencari jalan lain yang lebih mudah yaitu melewati rekahan alami tadi & berhasil. Inilah mengapa surface blowout terjadi di berbagai tempat di sekitar area sumur, bukan di sumur itu sendiri. (/wiki/Berkas:Lokasi-semburan-lumpur.jpg)

D. Dampak Semburan Lumpur Lapindo
Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.
Lumpur menggenangi duabelas desa di tiga kecamatan. Semula hanya menggenangi empat desa dengan ketinggian sekitar 6 meter, yang membuat dievakuasinya warga setempat untuk diungsikan serta rusaknya areal pertanian. Luapan lumpur ini juga menggenangi sarana pendidikan dan Markas Koramil Porong. Hingga bulan Agustus 2006, luapan lumpur ini telah menggenangi sejumlah desa/kelurahan di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin, dengan total warga yang dievakuasi sebanyak lebih dari 8.200 jiwa dan tak 25.000 jiwa mengungsi. Karena tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur dan 77 unit rumah ibadah terendam lumpur.
Lahan dan ternak yang tercatat terkena dampak lumpur hingga Agustus 2006 antara lain: lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring; lahan padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo, Kedungbendo, Sentul, Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon; serta 1.605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang.
Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja yang terkena dampak lumpur ini.
Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak bekerja.
Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil Porong, serta rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon)
Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak sebanyak 1.683 unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1.810 (Siring 142, Jatirejo 480, Renokenongo 428, Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah negeri), kantor 2 (Kantor Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid dan musala 15 unit.
Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal persawahan
Pihak Lapindo melalui Imam P. Agustino, Gene-ral Manager PT Lapindo Brantas, mengaku telah menyisihkan US$ 70 juta (sekitar Rp 665 miliar) untuk dana darurat penanggulangan lumpur.
Akibat amblesnya permukaan tanah di sekitar semburan lumpur, pipa air milik PDAM Surabaya patah [2].
Meledaknya pipa gas milik Pertamina akibat penurunan tanah karena tekanan lumpur dan sekitar 2,5 kilometer pipa gas terendam [3].
Ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak ditentukan, dan mengakibatkan kemacetan di jalur-jalur alternatif, yaitu melalui Sidoarjo-Mojosari-Porong dan jalur Waru-tol-Porong.
Tak kurang 600 hektar lahan terendam.
Sebuah SUTET milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik di empat desa serta satu jembatan di Jalan Raya Porong tak dapat difungsikan.
Penutupan ruas jalan tol ini juga menyebabkan terganggunya jalur transportasi Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi serta kota-kota lain di bagian timur pulau Jawa. Ini berakibat pula terhadap aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur.  (/wiki/Berkas:Lokasi-semburan-lumpur.jpg)


E. Deskripsi Psikologis
Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa atau mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa atau mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa atau mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Sedangkan psikologis adalah tingkah laku dan proses mental seseorang.
Gangguan psikologis
1. Gangguan cemas, yaitu dimana sesorang mengalami khawatir yang berlebihan. Gejalanya, jantung mereka berdebar-debar, sakit kepala hingga tak bisa tidur.
2. Panik adalah suatu kondisi kecemasan yang sangat berat yang disertai dorongan untuk lari atau bersembunyi sewaktu menghadapi kondisi yang dirasakan berbahaya atau mengancam. Rasa takut yang muncul tiba-tiba ini dapat menghilangkan kemampuan berfikir dan mempengaruhi kelompok atau individu manusia atau hewan yang awalnya cenderung menyebabkan sikap diam tak bisa berbuat apa-apa. Panik umumnya timbul pada kondisi bencana, atau kekerasan seperti perampokan and penjarahan yang dapat membahayakan kesehatan dan jiwa. Kata ini berasal dari nama dewa mitologi Yunani Pan yang memiliki kemampuan menimbulkan ketakutan untuk sendiri atau berada di daerah terbuka.
3. Gangguan stress, yaitu tekanan atau gangguan mental dimana seseorang tidak mampu berbuat apa-apa lagi dalam menghadapi suatu kejadian, merasa bersalah dan berdosa akibat kejadian tersebut. Bentuk stress itu biasanya agresitivitas dengan berbagai gradasi atau menjadi pendiam. Kelompok atau individu manusia tersebut merasa masih terbayang kejadian tersebut. Gejalanya penderita mengalami kebingungan ketika sebagian dari kejadian tersebut mulai terjadi.
4. Depresi, yaitu dimana seseorang mulai menarik diri, diam, tidak punya kemauan karena tidak mampu berbuat apa-apa.

F. Perubahan Struktur Perekonomian
Perubahan struktur adalah suatu kondisi yang mengalami mobilitas baik berupa sinking atau climbing dimana hal tersebut dialami oleh individu atau kelompok secara bertahap (struktual).
Perekonomian adalah tingkatan status ekonomi suatu individu atau kelompok.
Maka, perubahan struktur perekonomian adalah kondisi status ekonomi individu atau kelompok yang mengalami perubahan secara struktual. Perubahan tersebut dapat berupa sinking dan climbing.

G. Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian teori yang telah dipaparkan di atas, maka susunan kerangka berpikir akan dijabarkan sebagai berikut.

Dampak Semburan Lumpur Lapindo


      Kondisi Psikologis warga
      Di pengungsian Pasar Porong


Berubahnya Struktur Perekonomian


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan suatu objek penelitian dengan menjelaskannya melalui data-data kualitatif.

B. Populasi dan Sampel
Adapun populasi dalam penelitian berikut adalah warga yang menjadi korban semburan lumpur Lapindo.
Sampel dalam penelitian berikut adalah warga yang menjadi korban semburan lumpur Lapindo yang bertempat di lokasi pusat pengungsian di Pasar Raya Porong, kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah restricted sampling. Yaitu, pengambilan sampel menggunakan batasan-batasan. Batasan tersebut nantinya akan digunakan dalam menentukan responden. Batasan-batasan tersebut adalah sebagai berikut.
1.  Warga korban semburan lumpur panas Lapindo
2.  Menetap dan menjadi pengungsi di Pasar Baru Porong
3. Tidak mengalami gangguan kejiwaan, sehingga sanggup untuk diwawancarai.

C. Waktu dan Tempat
Waktu penelitian dibagi menjadi tiga tahap. Yaitu sebagai berikut.
1. Tahap pertama adalah observasi lapangan tanggal 2-9 Mei 2007
2. Tahap kedua adalah pengumpulan data tanggal 19-22 Mei 2007
3. Tahap ketiga adalah penulisan tanggal 23-26 Mei 2007
Adapun tempat penelitian adalah di Pasar Raya Porong, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

D.Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi.
Wawancara adalah proses berinteraksi dengan responden untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan yang diajukan.
Observasi ialah kegiatan mengamati objek dengan cara terjun langsung ke lapangan.

E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah teknik analisis kualitatif, yaitu teknik menggambarkan suatu objek penelitian dan dengan skala ukur yang berupa penggambaran nalar, tanpa disertai statistika.















BAB IV
PEMBAHASAN

A.Deskripsi wilayah
Wilayah yang dimaksud adalah wilayah semburan lumpur panas Lapindo yang menyebabkan tenggelamnya delapan desa dari tiga kecamatan dan wilayah pengungsian Pasar Baru Porong.

1. Wilayah Semburan Lumpur Panas Lapindo
Semburan lumpur lapindo berlokasi di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan. Lumpur panas tersebut telah menenggelamkan delapan desa dari tiga kecamatan. Sebanyak 1.683 unit rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur. Lumpur tersebut adalah akibat kesalahan pengeboran dari pihak PT Lapindo Brantas.

2. Pusat Pengungsian Pasar Baru Porong
Pengungsian pasar baru Porong adalah tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah daerah setempat. Pasar Baru Porong tersebut terletak di jalan raya Porong, jalan yang menghubungkan kota Bangil dan Sidoarjo. Pasar tersebut berseberangan dengan pasar tradisional Porong. Pasar baru Porong terletak sekitar 100 meter dari stasiun Porong. Dalam pasar tersebut terdiri atas kios-kios yang dijadikan tempat tinggal oleh warga korban semburan lumpur panas Lapindo. Terdapat sekitar 284 orang yang telah menetap selama 7 bulan pasca semburan lumpur panas Lapindo.

B. Perekonomian warga di Pasar Baru Porong
Semburan lumpur Lapindo membawa perubahan bagi pekerjaan yang dilakukan oleh warga di pengungsian Pasar Baru Porong.

1. Alasan Mengungsi
Alasan mereka menjadi pengungsi di Pasar Baru Porong dikarenakan tempat tinggal yang dahulu mereka huni telah tenggelam akibat semburan lumpur panas Lapindo.

2. Pekerjaan Warga Yang Mengungsi Di Pasar Baru Porong
Pekerjaan merupakan hal utama yang harus dipenuhi oleh warga pengungsian untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengembalikan kondisi ekonomi yang telah berubah akibat semburan lumpur panas tersebut. Berikut  diagram mengenai jenis pekerjaan selama menjadi pengungsi di Pasar Baru Porong.

Diagram 4.1
Pekerjaan yang dilakukan warga di pengungsian pasar baru Porong

Berdasarkan diagarm 4.1 diatas, data dari responden menunjukkan sebesar 17,57% sebagai tuna wisma atau pengangguran. Dan sebanyak 8,27% memilih berprofesi sebagai pengamen di jalan raya, kereta api atau bus-bus. Kemudian sebanayak 4,13% memilih berdagang, sisanya sebesar 1,3% responden memilih sebagai peminta-minta di jalan raya Porong.

3. Pekerjaan Sebelum Warga Menjadi Pengungsi di Pasar Baru Porong
Untuk dijadikan sebagai pembanding, maka penulis mencari tahu tentang pekerjaan yang dijalani oleh responden sebelum mereka menjadi pengungsi di Pasar Baru Porong. Berikut adalah diagran mengenai pekerjaan yang responden lakukan sebelum menjadi pengunsi.

Diagram 4.2
Pekerjaan yang dilakukan warga sebelum menjadi pengungsi

Dari diagram diatas, menunjukkan bahwa responden memiliki pekerjaan tetap dan lebuh baik dari pada mereka menjadi tuna wisma, pengamen dan peminta-minta. Sebanyak 46% responden berprofesi menjadi petani, 40% menjadi buruh, dan 7% masing-masing sebagai wiraswasta dan pedagang.
Hal tersebut telah menunjukkan perubahan struktur perekonomian di dalam sektor mata pencaharian.

4. Alasan Memilih Pekerjaan Atau Tidak Bekerja di pengungsian Pasar Baru Porong
Setelah mendapatkan data tentang pekerjaan yang mereka lakukan selama menjadi pengungsi di Pasar Baru Porong, penulis mencari tahu alasan mengapa responden memilih melakukan hal tersebut. Berikut adalah diagram tentang alasan yang diberikan oleh responden mengenai alasan mereka memilih pekerjaan sebagai pengangguran, pengamen, peminta, dan berdagang.


Diagram 4.3
Alasan memilih pekerjaan selama di pengungsian Pasar Baru Porong

Dari data diatas, dijelaskan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai keahlian lain, yaitu sebesar 70%. Misalnya Bapak Andri, salah seorang responden yang menjadi pengungsi menyatakan bahwa dahulu ia adalah seorang petani, namun karena ia tidak mempunyai keahlian khusus maka ia akhirnya menjadi tuna karya. Kemudian data sebanyak 20% menyatakan bahwa mereka sulit mendapat kerja yang cocok dengannya dan 10% karena keterbatasan modal untuk membuka usaha kembali.

5. Cara Memperoleh Penghasilan Untuk Memenuhi Kebutuhan
Bagi setiap manusia tentunya memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Hal tersebutlah yang menjadi keharusan bagi warga yang berada di pengungsian Pasar Baru Porong. Mereka harus memenuhi kebutuhan hidupnya.  Walaupun mereka telah diberikan jatah hidup, mereka tetap harus mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhannya. Berikut adalah data melalui diagram mengenai cara responden dalam memenuhi kebutuhan. 
Diagram 4.4
Cara memenuhi kebutuhuan selama berada di pengungsian

Dari data di atas, terlihat sebagian besar warga yang berad di pengungsian Pasar Baru Porong mengandalkan bantuan dari pihak luar, yaitu responden menjawab sebanyak 47%. Mengamen juga merupakan salah satu alternatif dalam memenuhi kebutuhan, hal tersebut dinyatakan oleh 27% responden. Sebanyak 13% bergantung kepada kiriman yang diberikan oleh kerabat dekat, 10% dari usaha yang dilakukannya, yaitu dagang. Dan terakhir sebanyak 3% responden mengandalkan hutang. Adapun cara pembayaran hutang tersebut adalah mencicil saat diberikannya dana bantuan setiap tiga bulan sekali kepada debitur pemberi hutang.

6. Ganti Rugi Atas Rumah dan Lahan
Lapindo menjanjikan akan memberikan santunan kepada korban yang rumah dan lahannya tenggelam akibat semburan lumpur panas Lapindo. Namun, menurut sejumlah responden bantuan tersebut belumlah mencukupi akan kebutuhan mereka. Bantuan dari Lapindopun tidak merata dalam pembagiannya. Berikut adalah data responden yang telah menerima dan belum menerima ganti rugi atas rumah dan lahan yang tenggelam akibat lumpur Lapindo.

Diagram 4.5
Data responden yang menerima ganti rugi dari Lapindo

Dari diagram diatas dapat dijelaskan bahwa, responden yang telah menerima sebesar 33% dan yang belum menerima sebesar 67%. Dari data tersebut tampak bahwa pembagian ganti rugi oleh pihak Lapindo belum terealisasikan dengan baik. Namun, warga yang menerima ganti rugi pun merasakan bahwa ganti rugi tersebut belumlah menutupi materi yang mreka korbankan. Ganti rugi masih dirasakan masih kurang akibat pemberian ganti rugi hanya diputuskan sepihak. Menurut bapak Purwanto, dirinya justru belum menerima ganti rugi atas kerugian yang menimpa dirinya dari pihak Lapindo. Sementara itu menurut bapak Min, daripada ia sama sekali tidak mendapat ganti rugi, maka lebih baik ia menerima apa yang diberioka oleh Lapindo.

7. Rincian Penggantian yang Diterima Korban
Ganti rugi yang diberikan oleh Lapindo memiliki ketentuan-ketentuan tersendiri. Besar ganti rugi menurut responden adalah sebagai berikut.
a. Lahan / sawah diganti sebesar  Rp. 2.000.000,-/ 2 tahun
b. Rumah    Rp. 5.000.000,-
c. Konsumsi / Biaya Hidup  Rp.  300.000,-/3 bulan
Ganti rugi yang diberikan tidak memadai terhadap penghasilan mereka atas lahan yang mereka miliki sebelumnya. Bagi mereka yang memiliki lahan dan menerima ganti rugi maka akan didapatkan perhitungan mengenanai perbandingan penghasilan dalam satu tahun saat memiliki lahan dan saat berada dipengungsian mengandalkan bantuan yang ada.
Perhitungan per tahun :
Saat mempunyai lahan berupa sawah
š Sawah mampu 3 kali panen
1 kali panen menghasilkan minimal  Rp. 1.100.000,-
Jadi, dalam satu tahun penghasilan dari sawah yang mereka miliki adalah Rp. 1.100.000,- x 3 = Rp.3.300.000

Saat berada di pengungsian dengan penghasilan dari dana bantuan
š Sawah 2 tahun Rp. 2.000.000,-
1 tahun Rp. 1.000.000,-
š Biaya hidup tiga bulan Rp. 300.000,-
1 tahun Rp. 1.200.000,-
Jadi, dalam satu tahun mendapat penghasilan sebesar Rp.2.200.000,-
Selisih pendapatan Rp.3.300.000,- dikurangi Rp. 2.200.000,- jadi menghasilkan kerugian dalam setiap tahunnya minimal sebesar Rp.1.100.000,-.  Oleh karena itu, dapat dimaklumi apabila warga merasakan bahwa ganti rugi yang diberikan oleh Lapindo tidak layak.

8. Biaya Hidup Selama Dalam Pengungsian
Berada di tempat pengungsian dalam waktu yang lama tanpa memiliki pekerjaan yang pasti dan penghasilan yang memadai tentunya memerlukan dukungan untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup. Menurut responden mereka selama berada di Pasar Baru Porong Sidoarjo mendapatkan jatah hidup dari PT. Lapindo Brantas. Namun, sekali lagi menurut mereka jatah hidup yang diberikan belumlah memadai.

C. Keadaan Psikologis warga di Pengungsian Pasar Baru Porong
1. Keadaan psikologi korban
Keadaan psikologis merupakan salah satu akibat dari adanya semburan lumpur panas Lapindo. Hal tersebut jarang dipublikasikan ke masyarakat. Berubahnya keadaan psikologis tersebut banyak dialami warga korban lumpur Lapindo selama berada di pengungsian. Mereka mengalami suatu depresi dan trauma tersendiri akibat hilangnya materi yang telah mereka miliki akibat lumpur Lapindo. Alasan berikutnya adalah mereka mendapatkan tekanan akibat status mereka yang tidak jelas di pengungsian.
Pengambilan sampel mengenai keadaan psikologis dilakukan melalui observasi dan wawancara terhadap responden yang mengetahui orang yang mengalami perubahan psikologis.
Berikut adalah hasil observasi dan pemberitahuan responden tentang bentuk kelainan atau perubahan psikologis yang dialami beberapa warga di pengungsian Porong.
a. Tidak dapat berbicara  Bapak. Soleh
b. Berbicara mengalami gemetaran Ibu. Sunariyah
c. Saat makan tangan dibalut sesuatu bapak. Andri
d. Gila tidak dapat lagi diajak berkomunikasi, hal tersebut telah menimpa beberapa orang
e. Menyilet-nyilet tangan
f. Mogok makan
2. Alasan Berubahnya Keadaan Psikologis
  Menurut responden alasan banyaknya warga yang mengalami perubahan keadaan psikologis disajikan dalam diagram sebagai berikut.

Diagram 4.6
Alasan berubahnya keadaan psikologis
  Menurut responden mereka mengalami perubahan dalam kejiwaan karena kekecewaan yang mendalam akibat ganti rugi yang tak kunjung selesai dan terealisasi. Hal tersebut dikuatkan oleh responden sebanyak 73%. Sebanyak 17% menyatakan tidak adanya dana, dapat membuat mereka mengalami gangguan psikologis, dan 10% menyatakan karena telah mengalami kerugian yang besar.

3. Bentuk Kekecewaan Warga Pengunsian Porong
Terdapat bentuk-bentuk kekecewaan warga Porong, akibat adanya peristiwa semburan lumpur panas Lapindo. Bentuk kekecewaan dari warga korban lumpur Lapindo dapat terlihat dari tindakan –tindakan yang tidak sewajarnya. Tindakan tersebut dilakukan sendiri atau dengan sekelompok orang lainnya secara kolektif dan kebersamaan. Informasi tentang hal-hal tersebut didapatkan dari keterangan-keterangan dari responden dan observasi.  Berikut adalah contoh berbagai tindakan sebagai akibat kekecewaan yang dilakukan oleh warga di Pengungsian Pasar baru Porong.
a. Mogok makan
b. Menyilet tangan
c. Meminta sumbangan dan mencari simpati dengan memberhentikan Kereta Api
d. Memblokade jalan
e. Istoghozah atau doa bersama
f. Unjuk rasa
Bentuk kekecewaan tersebut menurut responden telah dilakukan berkali kali dan menurut mereka hal tersebut bertujuan untuk menuntut kejelasan status warga pengungsian di Pasar Baru Porong.

4. Tanggapan responden mengenai bentuk kekecewaan yang dilakukan oleh warga pengungsian
Bentuk-bentuk kekecewaan yang pada akhirnya dilimpahkan ke dalam tindakan yang dilakukan warga pengungsian, tentu saja mempunyai tanggapan tersendiri dari responden yang juga bertempat dalam satu lokasi. Berikut adalah tanggapan responden yang disajikan dalam diagram sebagai berikut.

Diagram 4.6
Tanggapan responden mengenai tindakan warga korban Lumpur

Dari data tersebut menunjukkan bahwa responden dapat memaklumi tindakan-tindakan warga yang meluapkan kekecewaannya. Hal tersebut terlihat sebanyak 93% responden menyatakn hal tersebut wajar-wajar saja. Dan sebanyak 7% menyatakan hal tersebut tidak wajar.

D. Harapan Warga di pengungsian Pasar Baru Porong
Peristiwa Lumpur panas Lapindo yang belum terselesaikan penanggulangannya, membuat berbagai harapan timbul bagi warga di pengungsian Pasar Baru Porong. Respoden mempunyai harapan-harapan tersendiri akibat peristiwa tersebut. Hal tersebut disajikan dalam grafik tabel sebagai berikut.

Diagram 4.7
Harapan warga mengenai peristiwa Lapindo

Dari data di atas dapat terlihat harapan-harapan warga pengungsian. Sebagian besar menginginkan ganti rugi yang sesuai, yaitu sebanyak  40%,  27% menginginkan agar segera terselesaikannya ganti rugi oleh pihak Lapindo. Selanjutnya sebanyak 20% ingin mendapat perhatian dan dicarikan solusi mengenai peristiwa Lapindo. Sisanya sebanyak 13% menginginkan peristiwa Lumpur Lapindo jangan dijadikan sebagai bencana nasional. Karena bila dijadikan bencana, maka tidak akan ada ganti rugi tetap sesuai aturan, yang akan ada hanya bentuk sumbangan dari pihak luar. Selain itu, peristiwa lapindo  adalah akibat kesalahan pengeboran oleh manusia bukan terkait dengan peristiwa alam.










BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil dari pembahasan yang telah disajikan, maka didapatkan kesimpulan-kesimpulan yaitu sebagai berikut.
1. Peristiwa lumpur Lapindo berada di di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo dan pusat pengungsian utama berada di Pasar Baru Porong. Alasan mereka mengungsi adalah karena tempat tinggal mereka telah tenggelam akigat lumpur panas Lapindo.
2. Terjadi perubahan struktur perekonomian bagi warga yang mengunsi di Pasar Baru Porong, hal tersebut ditunjukkan oleh data sebanyak 17,57% sebagai tuna wisma.
3. Alasan banyaknya pengangguran adalah karena tidak ada keahlian lain, hal tersebut dinyatakan oleh responden sebesar 70%.
4. Selain mengandalkan jatah hidup, sebanyak 47% menyatakan mengandalkan bantuan dari pihak luar sebagai cara memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan.
5. Ganti rugi yang diberikan atas rumah dan lahan oleh pihak Lapindo belum terealisasikan sepenuhnya. Responden menyatakan sebesar 67% belum menerima ganti rugi tersebut, dan yang menerima ganti rugi menyatakan bahwa ganti rugi yang diterima belum mencukupi kebutuhan hidup.
6. Perilaku warga dan keadaan psikologis mengalami perubahan akibat lumpur panas Lapindo. Perubahan tersebut berupa stress, aksi mogok makan, menyilet tangan, bahkan gila.
7. Menurut responden kekecewaan tersebut karena ganti rugi yang diterima tidak memadai, yaitu sebanyak 73% menyatakan hal serupa.
8. Timbul berbagai perubahan perilaku dan tindakan yang tidak wajar, seperti aksi memberhentikan kereta, mogok makan, istighozah, menyilet tangan akibat permasalahan yang belum terselesaikan.
9. Menurut responden tndakan-tindakan yang timbul tersebut adalah sesuatu yang wajar terjadi. Sebanyak 93% menyatakan hal tersebut.
10. harapan responden adalah agar diberikan ganti rugi yang sesuai, yaitu sebanyak 40% menyatakan hal tersebut. Dan sebanyak 13% menyatakan bahwa lapindo bukan merupakan bencana nasional merupakan peristiwa akibat kelalaian pihak Lapindo. Mereka berharap kejelasan mengenai status mereka sebagai pengungsi di Pasar Baru Porong.

B. Saran
Adapun saran-saran yang ingin disampaikan oleh penulis adalah sebagai berikut.
Kepada pemerintah dan pihak yang bertanggung jawab
1. Memberikan status yang jelas mengenai  keberadaan warga yang tinggal di Pengungsian Pasar Baru Porong
2. Memberikan ganti rugi yang belum terealisasikan sesuai kesepakatan pihak yang diberikan ganti rugi dan pemberi ganti rugi.
3. Merelokasi warga dari Pasar Baru Porong ke tempat yang layak.
4. Menjadikan semburan lumpur Lapindo sebagai peristiwa yang harus diperhatikan dan jangan ditetapkan sebagai bencana nasional.
Kepada masyarakat umum
1. Memperhatikan dan meningkatkan kesadaran untuk membantu korban lumpur panas Lapindo.
2. Turut mendukung perjuangan warga yang terkena dampak lumpur Lapindo untuk mendapatkan hak-haknya yang sesuai.
Kepada warga pengungsian Pasar Baru Porong
1. Tetap berusaha untuk mendapatkan hak-hak semestinya yang harus didapatkan.
2. Tidak mencari simpati warga dengan cara yang meresahkan warga, seperti memberhentikan kereta api dan memblokade jalan.
3. Tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan nilai dan norma.




* Hosted for free by InvisionFree